Pages

Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2015

Bocah Ini Temukan Fosil Dinosaurus Usia 100 Juta Tahun! Kok Bisa?

fosil
Top Unik - Bocah usia lima tahun di Amerika Serikat menarik perhatian dari para peneliti dan media setempat. Bocah yang bernama Wylie, tak sengaja menemukan fosil dinosaurus langka berusia 100 juta tahun.

Sang bocah itu awalnya tak menyadari temuan penting itu. Dilansir dari Dallasnews, Kamis, 9 April 2015, saat itu, Wylie bersama ayahnya, Tim Brys, yang bekerja penjaga kebun binatang Dallas sedang bermain di dekat supermarket Matlock Road dan Debbie Lane, Texas.

Tiba-tiba Wylie menghampiri ayahnya dan menunjukkan temuannya.

"Ayah saya mengatakan itu adalah kura-kura. Tapi kini ayah mengatakan kepada saya bahwa itu adalah dinosaurus," ujar bocah itu di lokasi temuan.

Brys mengisahkan begitu buah hatinya menemukan fosil itu, ia terus menggali lokasi temuan untuk mencoba mencari fosil yang lain.

"Wylie menghampiri saya dan menemukan sebongkah fosil. Itu ukurannya besar dan saya mengetahui itu sesuatu yang menarik," kata Brys.

Temuan itu dilaporkan terjadi pada September tahun lalu, tapi untuk izin eskavasi di lokasi temuan baru bisa dikantongi beberapa bulan kemudian.

Temuan sang bocah itu menarik peneliti Southern Methodist University (SMU), Amerika Serikat. Peneliti menduga fosil itu bagian dari nodosaur, spesies dinosaurus darat langka di Texas.

"Cukup jarang menemukan dinosaurus di daerah ini," kata Michael Polycyn, peneliti SMU.

Fosil yang ditemukan sebuah cangkang pelindung tulang. Selanjutnya fosil dibawa ke laboratorium SMU untuk diteliti lebih lanjut.

Polycyn berterima kasih atas temuan bapak-anak itu. Bila tak ditemukan mereka, kata dia, fosil itu akan terkubur dan tak ditemukan lagi. Sebab di atas lokasi temuan akan dilakukan pembangunan.

Seperti Inikah Tampang Nenek Moyang Manusia?

Replika Manusia Purba
Top Unik - Ilmuwan mengklaim telah menemukan anggota baru dalam pohon keluarga manusia. Temuan ini berkat adanya sekumpulan tulang fosil di gua yang sempit dan gelap di Afrika Selatan.

Diutarakan ilmuwan, spesies baru ini merupakan campuran dari karakter mirip manusia dan keluarga yang lebih primitif lagi. Sebagian ilmuwan mengaggapnya sebagai spesies yang aneh. Sayangnya, temuan itu masih menyisakan sejumlah misteri, baik terkait dengan umur fosil, cara mereka masuk ke gua yang sulit diakses.

Dilansir melalui FoxNews, Jumat 11 September 2015, situs itu terletak 30 mil dari sebelah utara Johannesburg. Dari situ telah terkumpul sekitar 1.550 spesimen sejak penemuannya di 2013. Fosil-fosil itu diperkirakan mewakili sekitar 15 orang individu.

Peneliti menamakan mahluk itu sebagai Homo naledi. Digambarkan sebagai mahluk yang sudah bisa berdiri tegak. Tangan dan kaki mereka mirip spesies Homo namun bahu dan ukuran otak yang kecil lebih mirip nenek moyang Homo yang mirip kera.

"Karakter anatomi naledi mengungkap jika mereka adalah bagian dari kelompok Homo, yang umurnya sekitar 2,5 juta sampai 2,8 juta tahun," ujar Lee Berger, Profesor dari University of the Witwaterstrand, Johannesburg.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal eLife. Berger mengakui tidak bisa menentukan umur fosil itu karena karakteristik situs yang tidak biasa. Namun mereka tetap berupaya untuk menemukan jawabannya.

"Kami belum bisa mengklaim jika naledi adalah nenek moyang langsung dari manusia modern," kata Berger.

Hal ini juga diungkapkan oleh Direktur Program Keturunan Asli Manusia di Smithsonian Institute, Museum Sejarah Nasional, Rick Potts. Menurut Potts, tanpa adanya identifikasi usia maka akan sulit bagi peneliti untuk menentukan evolusi signifikan dari temuan ini.

Namun, Eric Delson dari Lehman College di New York percaya jika naledi masuk dalam kelompok manusia yang hidup dua juta tahun lalu. Sedangkan mengenai pertanyaan bagaimana naledi bisa masuk ke dalam goa itu, peneliti percaya jika goa itu adalah ruang kematian yang memang disediakan untuk manusia di zamannya. Atau mungkin, itu adalah perangkap mematikan bagi individu kala itu.

Peneliti lain, Tim White, dari University of California menganggap jika temuan fosil ini bukanlah bukti adanya spesies baru dari keturunan manusia. White yakin jika fosil itu adalah milik spesies primitif Homo erectus.

Minggu, 30 Agustus 2015

Kilat Merah Misterius di Bumi Tertangkap dari Luar Angkasa




Top Unik - Kilat cahaya berupa petir adalah fenomena biasa. Namun, bagaimana dengan kilat cahaya berwarna merah di atas badai? Jarang melihatnya bukan?

Pada 10 Agustus 2015 lalu, para astronot yang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) melihat kilat merah misterius itu di atas langit Missouri, Amerika Serikat, dan El Salvador. Keduanya tertangkap hanya dalam rentang waktu tiga menit.

Kilat itu kurang lebih berdiameter 100 kilometer. Biasanya, sulit untuk melihat kilat itu dengan mata telanjang. Jadi, melihat dua kilat cahaya itu secara langsung dalam waktu singkat sangat beruntung.

Meski mungkin terdengar remeh, kilat yang kerap disebut "sprite" itu misterius dan terus dipelajari oleh ilmuwan. Publikasi terbaru tentang pemicu dirilis di Nature Communications, 29 Juni 2015 lalu.

Ilmuwan sebelumnya sudah punya dugaan bahwa feneomena itu dipicu oleh gelombang gravitasi di atmosfer. Dalam studinya, Ningyu Liu dari Florida Institute of Technology berhasil membuktikan bahwa dugaan itu benar.

Menurut Liu, gangguan kecil akibat gelombang gravitasi di atmosfer bisa tumbuh di dalam medan listrik yang ada pada badai hingga akhirnya membentuk sprite.

"Gangguan dengan ukuran kecil dengan amplitudo besar adalah kondisi terbaik bagi munculnya sprite," kata Liu seperti dikutip Eureakalert, Juni lalu.

"Jika ukuran gangguan terlalu besar, pembentukan sprite tak mungkin terjadi. Jika magnitudo gangguan kecil, butuh waktu lama bagi sprite untuk terbentuk," ujarnya.

Lantas mengapa sprite berwarna merah? Menurut Liu, sprite terjadi ketika elektron pada badai terionisasi oleh nitrogen. Proses itu menghasilkan warna merah.

Ini Wajah Tersangka Bom Bangkok yang Ditangkap Polisi




Top Unik - Polisi Thailand menangkap seorang tersangka yang diduga terlibat dalam kasus bom Bangkok setelah menggerebek sebuah apartemen di Soi Chueam Samphan 11, di distrik Nong Chok, Bangkok, Sabtu (29/8/2015).

Seorang polisi mengambil foto lelaki berusia 28 tahun tersebut dengan menggunakan kamera telepon seluler.

Kepala Kepolisian Thailand Somyot Poompunmuang mengatakan, lelaki itu menggunakan paspor palsu Turki dengan nama Adem Karadag. Namun, kewarganegaraan lelaki tersebut belum diketahui.

"Ia dikenakan sangkaan memiliki bahan peledak," kata Somyot seusai penggerebekan, Sabtu.

Juru bicara kepolisian, Prawut Thavornsiri, dalam keterangan pers Sabtu sore mengatakan, dalam penggeledahan di apartemen lelaki itu, polisi menemukan sejumlah paspor berbagai negara. Polisi juga menemukan komponen bom yang sama seperti yang ditemukan di lokasi ledakan di Kuil Erawan.

Baca juga: Polisi Tangkap Tersangka Bom Bangkok.

"Kami percaya bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang melakukan serangan ke Kuil Erawan. Kami menemukan material bom di dalam apartemennya," kata dia.

Namun, polisi belum dapat memastikan apakah lelaki tersebut adalah orang yang sama dengan sosok yang terekam di CCTV yang gambarnya tersebar.

Penggerebekan yang dipimpin oleh Kepala Kepolisian Daerah Bangkok Srivara Rangsiprammakul itu melibatkan setidaknya 100 polisi dan pasukan militer.

Ledakan di Kuil Erawan menewaskan 20 orang, termasuk seorang warga negara Indonesia dan melukai lebih dari 100 orang, 14 di antaranya adalah warga negara asing.

Rabu, 19 Agustus 2015

Ini Dia Pramugari Trigana Air Dita Amelia Kurniawan

Unik Aneh - Berita duka datang dari keluarga besar Trigana Air. Pesawat dengan nomor IL267 itu jatuh di pegunungan Papua. Pesawat tersebut terbang dari Bandara Sentani Papua menuju Bandara Oksibil.



Salah satu pramugari yang ikut terbang bersama Trigana Air yang jatuh (16/8) adalah Dita Amelia Kurniawan. Dita adalah alumni SMPN 53 Jakarta dan lulusan SMAN 52 Jakarta. Sebelum terbang pada Minggu (16/8), Dita sempat update status di akun Path miliknya.

Dalam blog pribadinya, diketahui bahwa Dita ingin sekali tinggal di Paris, Perancis suatu hari nanti. Namun sayang, mimpinya itu belum terwujud. Bagi Dita, menjadi pramugari bukanlah suatu pekerjaan  tetapi merupakan sebagai hobi.







Pesawat ATR 42 milik Trigana bernomor penerbangan IL 257 hilang saat terbang dari Sentani ke Oksibil. Pesawat terbang dari Sentani pukul 14.22 WIT dengan mengangkut 49 penumpang, dan seharusnya tiba pukul 15.04 WIT di Bandara Oksibil.

Pesawat tersebut diterbangkan oleh Capt. Hasanudin dengan Co. Pilot Ariadin, dan dua orang pramugari yaitu Ika N dan Ditta A, serta seorang teknisi Mario. Inilah foto-foto Dita Amelia, pramugari cantik Trigana Air yang jatuh di daerah Papua.

Minggu, 26 Juli 2015

Wow! Fosil Ular Berkaki Empat Ditemukan di Brasil

Unik dan Aneh - Sebuah fosil ular berkaki empat berusia 113 juta tahun ditemukan di Brasil. Fosil seperti ini adalah yang pertama dilihat ilmuwan dan diperkirakan adalah nenek moyang ular masa kini.



Tangan dan kaki kecilnya itu diduga tidak digunakan untuk berjalan dan berenang, tetapi mungkin membantunya mencengkeram mangsa dan menggali. Temuan itu memperkuat asumsi yang mengatakan bahwa ular berevolusi di daratan.

Perdebatan itu sudah lama berlangsung di antara ahli palaentologi, dan para peneliti mengatakan bahwa makin sedikit bukti yang menunjukkan ular berkembang dari reptil laut.

"Ini adalah fosil ular yang paling primitif, dan tampak jelas ini tidak hidup di air," kata Dr Nick Longrich dari University of Bath, salah satu peneliti studi itu.

Berbicara kepada Science in Action untuk BBC, Longrich menjelaskan, makhluk ini tidak memiliki buntut yang berbentuk seperti dayung untuk berenang dan tidak memiliki tanda-tanda sirip.

Sedangkan belalainya yang panjang dan moncong pendek adalah fitur yang biasa ditemukan pada binatang penggali.

Longrich malah melihat sejumlah organ mirip ular, seperti gigi bengkok, rahang dan tulang punggung fleksibel, bahkan sisik mirip ular.

"Tidak bisa dimungkiri itu adalah ular. Hanya saja, dengan lengan dan kaki kecil," katanya.

Lengan 4 mm dan kaki 7 mm itu, menurut Longrich, tidak digunakan untuk berjalan, tetapi untuk mencengkeram mangsa.

Cengkeraman lemah itu yang mungkin juga digunakan pada saat perkawinan adalah sumber nama spesies itu, yakni Tetrapodophis, yang artinya ular berkaki empat, dan Amplectus, yaitu bahasa Latin yang berarti merangkul.

Dr Bruno Simoes yang mempelajari evolusi penglihatan ular di Museum Sejarah Alam di London mengatakan sangat terkesan oleh penemuan ini karena lengan dan kaki ular itu terawetkan dengan baik dan tampak berkembang baik.

"Sangat mengejutkan karena tampak sangat dekat dengan kelompok ular masa kini," katanya.

Simoes mengatakan, fosil tersebut ini dan beberapa temuan baru lainnya memberikan bukti bahwa ular berevolusi di daratan.